Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Prof.Dr.H.Salladien,B.Sc Pakar Geografi Manusia

5:45 PM Add Comment

Prof.Dr.H.Salladien,B.Sc,Drs adalah anak dari seorang guru besar bernama Prof.Fatchurrahman K,M.A. Beliau dilahirkan pada tanggal 6 Oktober 1941 di Tuan, Jawa Timur, menjabat sebagai Guru Besar Geografi Manusia di Universitas Negeri lang. Salladien menikah engan Sri Sudarmi, dosen FIP IKIP Malang pada tahun 1972, dikaruniai 3 orang anak; dr.Dian Susanthy (alm), Sophia Yuliastuty,S.S dan Robby Teja Hidayat,S.H,M.H.Almarhum telah pula dikarunia 5 cucu seorang diantaranya telah meninggal.Keluarga Salladien tinggal di Jl.Kemuning II/2,Sengkaling Indah II, Malang. Dia menyelesaikan Sekolah Rakyat pada tahun 1955 di Yogyakarta lulus pada tahun 1955 di Yogyakarta lulus pada tahun 1958,SMA di Yogyakarta lulus pada tahun 1962,menyelesaikan program sarjana muda (B.Sc) dala bidang Geografi Sosial di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1966 dan Sarjana (Drs)dalam bidang Geografi Perkotaan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1969.Gelar Doktor (Dr) dalam bidang Geografi Manusia di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1985. Post Doctorate Programe di The Ohio State University-USA  pada tahun 1986.

Disamping menjadi dosen di Jurusan Geografi di lingkungan Universitas Negeri Malang, Ia juga menabdi dalam jabatan struktural dan mengajar di beberapa PPS PTS dan PTN di Indonesia. Prof Salladien telah menulis beberapa buku, diantaranya Konsep-Konsep Dasar Demografi (PT.Bina Ilmu,4 edisi dari tahun 1980-1989), Geografi dan Kependudukan (PT.Bina Ilmu, 16 edis 1980-1989), Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (PT.Bina Ilmu, 4 edisi tahun 1986-1987), Konsep-konsep Statistik Terapan,Sistem Modular (P2T DEPDIKBUD, tahun 1988, Edisi Ulang tahun 2008, LEBIT UM),Pengantar Ilmu Sosial (Universitas Terbuka, tahun 1988), Tenaga Kerja Petani,Diversifikasi  Pedesaan dan Pembangunan (Dalam Proses Pengeditan, tahun 2008). Sampai dengan waktu akhir-akhir ini Prof Salladien banyak terlibat dalam perkuliahan, sebagai promotor disertasi dan sebagai penguji disertasi di PPS Universitas Negeri Malang, PPS UNIBRAW, PPS UNAIR,PPS IAIN Sunan Ampel, PPS UNMER Malang (Kodam V Brawijaya), PPS Universitas Gadjah Mada dan sebagainya. Produk buku yang ditulis oleh Prof. Salladien tidak hanya buku di tingkat perguruan tinggi atau buku untuk mahasiswa. Jau sebelumnya,beliau juga aktif dan produktif menulis buku-buku mata pelajaran geografi di SMA

Prof Salladien mempunyai keahlian dibidang riset  (kuantitatif, mixed methode, kualitatif. Keahlian Prof.Salladien dalam mendalami berbagai jenis riset ditunjukkan komitennya menulis berbagai riset yang umumnya digunakan oleh para ilmuwan, yakni riset paradigma kuantitatif,kualitataif dan mixed methode.
Sebagaimana karya tulis beliau diidang riset telah diterbitkan suatu buku “Penelitian kuantitatif dan Analisis data Kuantitatif” yangditerbitkan oleh PPS UM yang bekerjasama dengan Ditjen Dikti dan berbagai paper tentang penelitian. Ia mencatat bahwa metodelogi adalah pengetahuan tentang cara-cara (science of methods). Dala konteks penelitian,metodelogi adalah”totalitas cara” untutk meneliti dan menemukan kebenaran baik dengan cara pendekatan kuantitatif atau kualitatif atau gabungan diantaranya keduanya (mixed methode). Untuk lebih mengenal beliau lebih dekat klik disini.


Sumber : Ghazali, Syukur dkk. 2015. Pijar Pemikiran Para Pendidik. Malang:Universitas Negeri Malang.

Prof.Ir.Radyastuti Winarno Pakar Pendidikan Lingkungan Hidup

1:20 PM Add Comment
Prof.Ir.Radyastuti Winarno

Pakar Pendidikan Lingkungan Hidup
Universitas Negeri Malang



Radyastuti Sudibyo lahir di Sumenep, Tanggal 18 Februari 1935,Puteri dari Bapak Djoko Sudibyo.Beliau lulus dan mendapat gelar Ir. dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor tahun 1961.Selain mengajar di IKIP Malang, Beliau juga menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.Beliau menikah dengan Ir.Baskoro Winarno,dosen di Jurusan Pertanian Universitas Brawijaya dan dikaruniai dua orang puteri, yaitu Ira dan Janita.

Selama menjadi dosen IKIP Malang Bu Radyastuti Winarno membina mata kuliah Ekologi Dasar untuk mahasiswa program Sarjana Muda dan Ekologi Lanjut untuk mahasiswa program Doktoral.Mata kualiah lain yang beliau bina adalah Pengetahuan Lingkungan.

Selama menjadi dosen IKIP Malang Bu Radyastuti Winarno membina mata kualiah Ekologi Dasar untuk mahasiswa program Sarjana Muda dan Ekologi Lanjut untuk mahasiswa program Doktoral. Mata kuliah lain yang juga beliau bina adalah Pengetahuan Lingkungan.

Segala tingkah laku Bu Radyastuti  mencerminkan prinsip-prinsip ekologi yang beliau tekuni selama tiga dasawarsa.Beliau adalah seorang yang konsisten dalam mendalami suatu bidang dan karena itu menjadi sangat knowledgeable mengenai bidang lingkungan hidup dan pendidikan lingkungan hidup. Setelah beliau memperoleh gelar guru besar dalam bidang Pendidikan Lingkungan Hidup, beliau malah lebih sering dipanggil ke Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya untuk menjadi pembimbing atau penguji para mahasiswa S-2 (bahkan S-3) uyang tesis atau disertasinya dalam bidang Lingkungan Hidup.

Saking mempunyai banyak pengalaman dan kontibusinya yang besar dalam bidang pendidikan pada tanggal 29 Desember 1992 Prof.Ir.Radyastuti Winarno diangkat menjadi Guru Besar dan menyampaikan pidato pengukuhan yang berjudul Ekologi sebagai Dsar untuk Memahami Tatanan Lingkungan Hidup. Pokok-pokok pikiran yang terandung dalam pidato beliau bisa di download disini


Sumber : Ghazali, Syukur dkk. 2015. Pijar Pemikiran Para Pendidik. Malang:Universitas Negeri Malang.

Prof. Dr. Budijanto, M.Sos, Pakar Geografi Kependudukan

9:50 PM Add Comment


Prof. Dr. Budijanto, M.Sos beliau adalah Dosen Jurusan Geografi FIS UM (Universitas Negeri Malang) sekaligus Dosen di Pascasarjana UM (Universitas Negeri Malang) juga. Beliau lahir di Magelang, 12 Juni 1953 dan dalam riwayat hidupnya telah banyak memberikan kebermanfaat bagi sekitarnya. Berbagai riwayat pendidikan yang sudah ditempuh adalah :

1. SR Negeri Windusari Magelang lulus tahun 1964
2. SMP N II Magelang lulus tahun 1968
3. SMA Negeri Magelang bidang sastra sosial dan lulus tahun lulus tahun 1971
4. S1 Kependudukan Fak. Geografi UGM Yogyakarta lulus tahun 1979
5. S2 Sosped PPS UB lulus tahun 2005
6. S3 Sosped PPS UB lulus tahun 2011

Berdasarkan riwayat pendidikan yang ada maka tak perlu diragukan lagi bahwa beliau sudah mempunyai banyak sekali pengalaman di bidang sosial terutama dalam kependudukan. Bahkan hingga kini masih turut berkontribusi dalam mengembangkan serta menyumbangkan berbagai ilmunya terutama yang sesuai dengan kepakarannya. Hingga kini beliau masih menorehkan berbagai prestasi dalam bidang sosial, hal ini terbukti beliau memperoleh beberapa penghargaan diantaranya : Dosen Teladan I Tingkat Fakultas di FPIPS IKIP Malang Tahun 1983 dan Dosen Teladan II Tingkat Institut di IKIP Malang Tahun 1983, Puncaknya pada tanggal 11 Februari 2016 beliau dikukuhkan menjadi guru besar dalam bidang ilmu kependudukan pada Fakultas Ilmu Sosial. Pada detik-detik pengukuhan sebagai guru besar beliau sempat menyampaikan pidato berjudul  “Migrasi Internasional Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Dampaknya Terhadap Daerah Asal”

Sekilas dari isi pidato beliau menggambarkan bahwa Indonesia yang jumlah panduduknya 250 juta jiwa sebagai salah satu negara yang memilki jumlah penduduk terbesar ke 4 didunia setelah RRC : 1,3 milayar jiwa, India: 1,1 milyar jiwa dan Amerika Serikat 500 juta jiwa . Masalah utama kependudukan di Indonesia adalah tidak imbangnya pertambahan angkatan kerja degan penyediaan kesempatan kerja sehingga berdampak pada semakin tingginya pengangguran.  diprediksi akan mendapat bonus di tahun 2020–2030. Bonus tersebut adalah Bonus Demografi, dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak.

Bonus demografi ini tentu akan membawa dampak sosial – ekonomi. Salah satunya adalah menyebabkan angka ketergantungan penduduk, yaitu tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, Hal ini sejalan dengan laporan PBB, yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya, angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020. Tentu saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi.

Masalah yang paling nyata adalah ketersedian lapangan pekerjaan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah negara kita mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk menampung 70% penduduk usia kerja di tahun 2020-2030.  Jadi tak heran untuk memenuhi kebutuhan secara ekonomi akan mendorong penduduk untuk melakukan migrasi Internasional tenaga kerja Indonesia. Adanya migrasi tersebut pastinya tidak akan lepas dari dampak migrasi internasional terutamaterhadap daerah asal yang akan dikupas tuntas oleh beliau. Untu mengetahui isi pidato pengukuhan beliau lebih lengkap silahkan klik link disini



Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si Pakar Geografi Fisik

10:49 PM Add Comment



Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si pada 14 Februari 1961 di Yogyakarta yang merupakan dosen sekaligus guru besar pada bidang geografi fisik di Universitas Negeri Malang (UM). Riwayat pendidikan yang sudah beliau tempuh antara lain :

1. SD Pakualaman I Yogyakarta 1975

2. SMP BOPKRI IX Yogyakarta  1978

3. SMA Negeri 6 Yogyakarta 1981

4. Strata 1 (S-1) Fakultas Geografi UGM Yogyakarta 1986

5. Strata 2 (S-2) Program Studi Ilmu Lingkungan, PPS UGM Yogyakarta.  1993

6. Strata 3 (S-3) Program Doktor Ilmu Pertanian, Minat Studi Sumberdaya Alam dan Lingkungan, PPS Unibraw Malang.  2008

Selain aktif dalam menghasilkan karya-karya ilmiah beliau juga mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Fakultas Pascasarjana Universitas Negeri Malang Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si juga mendapatkan amanah sebagai Wakil Direktur II Pascasarjana UM. Meskipun banyak sekali kesibukan yang beliau emban  bukan menjadi halangan untuk bisa menorehkan berbagai prestasi, hal ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang sudah diperoleh seperti sebagai Dosen Teladan I Tingkat Fakultas FPIPS Tahun 1998, Dosen Teladan II Tingkat Institut IKIP Malang Tahun 1998 hingga pada tahun 2011 beliau dikukuhkan sebagai guru besar bidang geografi fisik dan sempat memberikan pidato pengukuhannya dengan judul “Pengendalian Keseimbangan Air Tanah Di Kota Dengan Pendekatan Geografi” 

Secara garis besar isi pidato ini, beliau mengungkapkan bahwa masalah air tanah di kota karena sumber daya air yang sangat dibutuhkan manusia apalagi kondisinya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Secara kuantitas dari hari ke hari jumlah ketersediaannya semakin menyusut, dan secara kualitas semakin lama kondisinya semakin memburuk. Apalagi akhir-akhir ini kebutuhan penduduk akan air bersih  cenderung semakin meningkat.

Peningkatan kebutuhan air bersih di daerah perkotaan terutama disebabkan oleh faktor pertumbuhan penduduk dan perkembangan sosial budaya masyarakat. Pertumbuhan penduduk mengakibatkan jumlah pengguna air semakin bertambah banyak, sedangkan perkembangan sosial budaya mengakibatkan jumlah kebutuhan air per-kapita semakin meningkat. Dengan demikian pada kota yang telah berkembang  dan semakin modern, maka kebutuhan air bersih akan semakin besar.  Peningkatan jumlah kebutuhan air bersih berdampak pada meningkatnya eksploitasi air tanah di kota.

Eksploitasi air tanah dilakukan baik pada air tanah bebas/dangkal maupun air tanah tertekan/dalam. Pada dasarnya penyusutan cadangan air tanah di kota hanya dapat ditanggulangi  dengan cara pengimbuhan air buatan meskipun upaya pengimbuhan air tanah buatan harus mempertimbangkan faktor kondisi fisik lahan. Selain itu upaya pengendalian keseimbangan air tanah bukan hanya menjadi  tugas pemerintah kota semata, tetapi juga menjadi tanggungjawab  semua penduduk kota; maka pengetahuan tentang lingkungan hidup terutama yang menyangkut masalah sumberdaya air menjadi penting untuk dimasyarakatkan.

Sehubungan dengan itu, pendidikan lingkungan khususnya materi tentang sumberdaya air penting diberikan kepada siswa sejak TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Bahkan, pendidikan lingkungan perlu diberikan melalui pendidikan non-formal bagi masyarakat umum.
Hal tersebut agar masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya menjaga sumberdaya air demi kelangsungan kehidupan penduduk kota. Pada mata pelajaran geografi di SD, SMP, dan SMA, materi tentang sumberdaya air sudah ada; Sedangkan di Perguruan Tinggi materi sumberdaya air sebagai salah satu komponen geografi fisik
juga sudah diberikan, bahkan wajib muncul sebagai suatu matakuliah tersendiri, ungkap beliau.


Selengkapnya Curiculum Vitae dan Pidato beliau bisa didownload disini dan disini

Pendidikan Geografi Di Indonesia Menuju Pembentukan Karakter Bangsa

10:43 AM Add Comment



PENDIDIKAN GEOGRAFI DI INDONESIA MENUJU PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA

Oleh: Prof. Dr. Totok Gunawan, M.S.
Fakultas Geografi UGM




Ketika Geografi Indonesia sudah tidak dikenalkan kepada bangsa Indonesia secara menyeluruh, yang paling dulu terjadi adalah buta wilayah dan/atau ketidakpedulian terhadap wilayah Indonesia yang berakhir pada kehilangan identitas diri (karakter bangsa). Sebab pada hakekatnya , geografi Indonesia menjadi induk ibu pertiwi (sentral) dan perisai diri dalam setiap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Seluruh wilayah Indonesia, kecuali yang telah dikuasai oleh penjajah lain seperti bangsa Jepang, Portugis, dan Inggris. Cara-cara yang digunakan untuk mendapatkan simpati raja-raja di Indonesia adalah dengan cara memihak yang lemah, dan dengan cara liciknya akan memberikan batuan asal ada upahnya yang berupa sebidang lahan. Bangsa Indonesia tidak sadar oleh tipu daya penjajah Belanda karena cara yang digunakan sepertinya betul-betul membantu padahal senjata yang digunakan adalah politik “memecah belah” dan/atau “adu domba” dan/atau “kambing hitam” dan/atau “sapi perahan” dan masih banyak lagi tipu muslihat yang dimilikinya.

Sejarah (kuno) menunjukkan bahwa pada abad XII pada zaman keemasan Kerajaan Singasari (Jawa Timur) yang dipimpin oleh Sang Raja Kertanegara telah dapat menyatukan “Wilayah Nusantara” (Negarakertagama Canto 42) yang meliputi Malaysia, Champochea, China (Champa), Philipina, dan sekitarnya. Surutnya Kerajaan Singasari kemudian diteruskan oleh Kerajaan Majapahit Yang dipimpin oleh Sang Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gadjah Mada (dengan ketenaran dalam Sumpah Palapa), walaupun tidak seluas “Wilayah Nusantara”, pengaruh budaya Kerajaan Majapahit masih membawa keharuman dan kewibawaan Bangsa Indonesia. Apabila diambil hikmahnya pemikiran kedua Raja Besar tersebut telah menjangkau wilayah geografi (Wilayah Nusantara) sebagai satu kesatuan budaya dengan tujuan membentuk karakter bangsa Indonesia. Surutnya Kerajaan Majapahit berdiri Kerajaan Mataram, bangsa Indonesia dapat dikuasai oleh penjajah asing, mulailah terpecah-pecah, terkotak-kotak, dan terkoyak-koyak oleh penjajahan Kolonialis Belanda. Dengan daya tipunya yang hebat Mataram dipecah menjadi dua, yaitu Mataram Surakarta Hadiningrat dan Mataram Ngayogyokarta Hadiningrat (pada abad XVII atau Tahun 1755). 

Wilayah geografi Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda telah terpetak-petak, sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal dikuasai dengan cara sebagai upah atau pengganti atas kebaikannya dalam memberikan bantuan untuk dapat mengalahkan saudaranya (bangsa) sendiri. Belanda berhasil memecah belah wilayah geografi Indonesia untuk merusak jati diri (karakter) bangsa Indonesia. Akhirnya pihak Belanda dapat menguasai. 

Peneliti adalah Guru besar di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM)

Artikel selengkapnya bisa didownload disiniProfil Peneliti klik disini.

Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M. S. Pakar Geografi Pariwisata

1:18 PM Add Comment

Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M. S. adalah Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia yang dikenal dengan UPI. Pendidikan yang sudah beliau tempuh antara lain :

1. SD di Bandung, lulus tahun 1973
2. SMP di Bandung, lulus tahun1975
3. SMA di Bandung, lulus tahun 1977
4. S1 IKIP Bandung, lulus tahun 1983
5. S2  Jurusan Geografi Manusia UGM Yogyakarta, lulus tahun  1989
6. S3 Jurusan Geografi Manusia UGM Yogyakarta, lulus tahun  2004

Beliau dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang geografi kepariwisataan  di Fakultas Pendidikan  Ilmu Sosial (FPIS) tahun 2010  dibuktikan dengan adanya pidato pengukuhan yang berjudul “Dimensi Geografi dalam Kepariwisataan dan Relevansinya dalam Dunia Pendidikan”. Hingga saat ini beliau masih aktif dalam menghasilkan dalam berkarya menghasilkan berbagai macam karya ilmiah seperti penelitian, buku,artikel hingga makalah yang memperkaya pengetahuan tentang kegeografian sehingga banyak mendapatkan berbagai penghargaan diantaranya menjadi Dosen teladan I tahun 1989 IKIP Bandung,  Satyalancana Karya Satya 10 tahun dari Presiden Republik Indonesia dan Piagam karya Bakti Satya. Rektor UPI tahun 2003.

Selain berprofesi sebagai dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M. S. Juga mendapatkan amanah sebagai Ketua Prodi Pendidikan Pascasarjana IPS tahun 2007-sekarang selain itu juga menjadi Ketua Perhimpunan Profesi Pendidik Geografi (P3GI) yang terpilih secara aklamasi. Pemilihan tersebut dilaksanakan sekaitan dengan kongres yang diadakan di Universitas Negeri Malang (UM) pada Sabtu 6 Juni 2015. Perhimpunan ini merupakan wadah bagi seluruh masyarakat yang mempuyai profesi sebagai pendidik geografi, baik itu guru maupun dosen. Kongres ini dihadiri oleh 42 perwakilan dari perguruan tinggi yang memiliki program studi geografi dan pendidikan geografi di Indonesia..Untuk mengetahui isi pidato pengukuhan sekaligus profil beliau bisa didownload disini.

Referensi tambahan :

 

Prof. Dr. H. Ach. Fatchan, M.Pd, M.P. Pakar Geografi Sosial

10:41 AM Add Comment



Prof. Dr. H. A. Fatchan, Drs, MPd, M.Si (Sekarang bergelar M.P atau Magister Pertanian) lahir di Kenongo-Tulang-an-Sidoarjo pada tanggal 15 Juli l957. Saat ini bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Malang Jatim. Tamat SD tahun 1972 di Kenongo Tulangan Sidoarjo, SMP 1973 di Tulangan Sidoarjo, SPMA 1975 di Sidoarjo, Sarjana Pendidikan Geografi 1982 IKIP Negeri Malang, Magister Pendidikan 1991 IKIP Negeri Malang, Magister Sains Sosek Pertanian 1999 di PPS-Unibraw Malang, dan Doktor Ilmu Sosial 2003 di PPS-Unair Surabaya. Memperoleh gelar Guru Besar di bidang Geografi Sosial tahun 2006 di FMIPA-UM. Riwayat pekerjaan, pada tahun 1976-1985 bekerja sebagai PPL dan merangkap sebagai Kepala Diperta Kecamatan di daerah Malang. Tahun 1986 sampai 1999 menjadi dosen di IKIP Negeri Malang. Tahun 2000 sampai sekarang sebagai dosen di Universitas Negeri Malang. Tahun 2004-2007 sebagai Ketua Program Studi S-2 Pendidikan Geografi di PPS-Universitas Negeri Malang. Tahun 2007 sampai sekarang menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang. 

Sampai saat ini masih aktif melakukan penelitian. Diantaranya penelitian yang pernah dilakukan seperti bekerjasama de-ngan Dirjen Dikti Dirbinlitabmas, The Toyota Foundation, Plan Interna-tional Indonesia, dan Kementerian Ristek LIPI. Berbagai karya penulisan buku antara lain diterbitkan oleh Laboraturium Geografi, Dirjen Dirbin-litabmas, proyek OPF UM, penerbit IKIP Malang, dan the Toyota Foundation. Serta dua buah buku yang baru terbit berjudul: Pembelotan Kaum Pesantren dan Petani Jawa; Teori-Teori Perubahan Sosial yang diterbitkan oleh Yayasan Kampusina Surabaya pada tahun 2004. Berbagai jurnal ilmiah pernah ditulis baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional, seperti di Lembaga Penelitian UM Malang, Universitas Negeri Jember, The Toyota Foundation, dan Lemlit IKIP Bandung. Di samping itu, banyak tulisan ilmiah yang dipresentasikan baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Biografi lengkap anda bisa meluangkan waktu untuk membaca di Perpustakaan Pascasarjana atau lebih lanjut anda bisa bertemu beliau langsung.

Prof.Drs.H.R.Bintarto Pakar Geografi Indonesia

9:15 PM Add Comment


Geografi mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di permukaan bumi, baik yang bersifat fisik maupun yang menyangkut kehidupan makhluk hidup beserta permasalahannya melalui pendekatan keruangan, kelingkungan, dan regional untuk kepentingan program, proses, dan keberhasilan pembangunan.
Definisi ini seringkali anda temukan dan disampaikan oleh guru IPS anda mulai dari SMP-SMA. Dilihat dari definisi itu  tak sembarang orang bisa merumuskan dengan mudah pastinya dikaitkan dengan para praktisi pendidikan yang mempunyai keahlian dalam bidang geografi, Siapakah beliau ? Ya, beliau adalah R. Bintarto atau lebih populer dengan nama Prof.Drs. H. R. Bintarto Guru besar UGM yang dikukuhkan pada tanggal 19/06/71 dengan pidato  pengukuhan yang berjudul Kota Yogyakarta (Suatu Tinjauan Geografi Sosial). Sedangkan definisi tentang Geografi itu sendiri di rumuskan pada tahun 1981. Walaupun sudah tiada tapi bagi seorang Mahasiswa,Guru hingga Dosen Geografi nama dan sosok beliau sudahlah tak asing lagi yang bisa dikatakan sangatlah berperan penting dalam masalah pendidikan terbukti dengan karya-karya yang seringkali menjadi rujukan sekaligus beliau mendapat berbagai penghargaan. Untuk mengenal lebih lanjut berikut adalah biografi singkat beliau :
Profil Singkat :

Nama               : Prof.Drs.H.R.Bintarto
Tempat lahir    : Purworejo
Tanggal lahir   : 10/11/29
Status               : Almarhum (18 Mei 2006 diusia 76 Tahun )
Pendidikan      : S1 Fak. Geografi, Universitas Gadjah Mada, 1957
Bidang ilmu    : Geografi Sosial (Social Geography), Ekologi Manusia (Human Ecology)
Penghargaan dan Publikasi :
a. Penghargaan

• Man of the year, dari American Biographical Institute dan memperoleh Gold Medal (Medali Emas), 1996
• Bintang Kelas I dari Presiden RI, 1987
• Certificate from Organizing Comittee ESCAP, 1985
• Penghargaan Kesetiaan 25 tahun dari UGM, 1984
• Penghargaan dari Panitia Seminar Nasional Mengenai Pembangunan Sosial dan Politik Menuju ke Arah Peningkatan Ketahanan Nasional
b. Publikasi
• Bintarto, 1971. A Glimpse of West Irian, A Geographical Viewpoint, Journal P&K Jakarta
• Bintarto, 1981. Geographycal Relevance to the Study of Development, International Congress, Japan
• Bintarto, 1982. The Problem of Growth of Yogyakarta, A Sultanate Town in Indonesia, Asian Geographic Journal
• Bintarto, 1992/1993. Urban Expansion and Social Change in Indonesia,Indonesian Journal of Geography
• Bintarto, 1998. Geografi Penduduk dan Demografi, Penerbit Fak. Geografi UGM

Sumber data : http://mgb.ugm.ac.id/user-menu/profile-saya/userprofile/bintarto

Prof. Dr. Ida Bagoes Mantra pakar Geografi Kependudukan

9:14 PM Add Comment



Prof. Dr. Ida Bagoes Mantra laki-laki kelahiran 1 februari 1932 Tabanan Bali Semasa hidupnya beliau pernah menempuh pendidikan di SR Laki-laki III, Denpasar (1948), Sekolah Lanjutan Umum, Denpasar (1951), SMA II Bagian B, Malang (1954), Fakultas Geografi UGM, jurusan Ilmu Bumi (1964), Lulusan Doktor (Ph.D) di University of Hawaii USA (1978) dalam Ilmu Geografi Penduduk.
Selama menjadi Dosen dan Guru Besar, beliau aktif di Pusat Studi Kependudukan, kordinator S2 Studi Kependudukan, Program pascasarjana UGM (1982-1994), Kepala Divisi Kependuudukan, PAU UGM (1985-1994), Ketua jurusan Geografi Manusia, Fakultas Geografi UGM (1993-1996) dan pernah menjadi Guru Besar Tamu Universitas Kebangsaan Malaysia (1994).
Selain banyak menghadiri seminar Kependudukan  baik di dalam maupun di luar negeri beliau juga banyak menulis buku, maklah kependudukan terutama mobilitas penduduk untuk jurnal-jurnal ilmiah di Indonesia dan luar negeri.Tulisan-tulisannya antara lain Population  Movement in Wet Rice Communities: A Case Study of Two Dukuh inYogyakarta Special Region (1981) dan Urbanization in Indonesia (1990). Tulisannya berjudul : Illegal Indonesian Labour Movement from Lombok to Malaysia (1999) dimuat dalam jurnal Internasional:Asia Pasific View-point 1999, Victoria University of Welington, mendapat Award dari Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Jakarta dan masih banyak karya lainnya yang beliau hasilkan.

Setelah pensiun dari UGM, Prof. Dr. Ida Bagoes Mantra menghabiskan masa pensiunnya di Tabanan Bali. Selama mengajar di UGM, dirinya dan keluarga menetap komplek perumahan dosen UGM, Sekip N-2. (Humas UGM). Prof Dr Ida Bagoes Mantra. Guru Besar Fakultas Geografi tersebut, tutup usia pada hari Sabtu, 10 Nopember 2007 di Rumahnya Tabanan, Bali.


Rujukan : http://ugm.ac.id/id/berita/14-guru.besar.ugm.prof.dr..ida.bagoes.mantra.berpulang

Prof . I Made Sandy Sang Professor Bersahaja

9:10 PM Add Comment


Nama I Made Sandy sering terdengar di kantor, Nama beliau sering terungkap dalam obrolan sehari-hari maupun dalam rapat-rapat internal. Kebaikan maupun cerita hidup beliau sering dikenang. Beliau adalah direktur pertama Direktorat Penatagunaan Tanah (dahulu bernama Direktorat Tata Guna Tanah).  Pada awal-awal masuk, saya gak begitu ngeh dengan namanya, namun lama-lama pengen tau lebih dalam siapa sebenarnya I Made Sandy. Berikut ini akan saya ulas hasil obrolan dengan pegawai-pegawai senior di lingkungan kerja saya.
Pak I Made Sandy adalah sosok yang pendiam dan sederhana. Ada yang mengatakan bahwa beliau adalah Direktur termiskin di BPN. Beliau ke kantor pulang pergi membawa mobil sendiri. Menurut kawan yang pernah ke rumahnya, rumah beliau sederhana dengan kursi rotan yang busanya sudah robek-robek. Ada hal lain yang patut diteladani, beliau selalu mengembalikan sisa perjalanan dinas sesuai dengan jumlah hari yang digunakan. Selain itu, apabila di daerah dibelikan tiket hotel maupun pesawat oleh pegawai daerah maka uangnya akan dikembalikan ketika beliau sudah sampai di jakarta. Uang dikirimkan menggunakan jasa wesel. Hal yang langka ditemukan pada kondisi sekarang ini.
Menurut cerita, Pak I Made Sandy sangat memperhatikan anak buahnya. Pada siang hari, beliau berkeliling ke ruangan staf-stafnya untuk melihat kondisi anak buah. Banyak pegawai-pegawai golongan rendah yang dibantu oleh beliau hingga dapat memiliki rumah sendiri.
Sampai dengan sekarang saya masih berusaha mengetahui perihal Pak I Made Sandy. Banyak buku-buku yang telah beliau terbitkan khususnya mengenai tata guna tanah. Mudah-mudahan dapat kita ulas pada kesempatan yang lain.

  
Waktu terus berjalan, dari jaman perjuangan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan hingga sekarang. Sepertihalnya adanya manusia di muka bumi ini, pemimpin datang dan pergi. Pemimpin besar tidak ada di setiap generasi, pemimpin yang dikenang dan dipuja karena kebaikannya. Kiranya kita telah mengenal pemimpin-pemimpin besar di masa perjuangan kemerdekaan. Pada masa sulit dan penuh kesengsaraan inilah pemimpin besar lahir. Pasca kemerdekaan hingga sekarang dimana kita dikelilingi sumberdaya alam, pemimpin besarpun sulit ditemukan.

Gajah pergi meninggalkan gading dan harimau pergi meninggalkan belang. Demikianlah pepatah yang menggambarkan bagaimana kita akan dikenang dihari sepeninggal kita. Ingin dikenang baik, dikenang buruk atau tidak dikenang adalah pilihan kita. Untuk apa kita dilahirkan? Apakah hanya untuk mengisi rantai kehidupan manusia secara species, hidup hanya untuk berkembangbiak dan mati.

I Made Sandy, satu pemimpin di Direktorat Penatagunaan Tanah, BPN merupakan pemimpin besar dalam kantornya yang kecil diantara kantor-kantor instansi yang lain. Nama beliau selalu dikenang karena kebaikannya hingga sekarang. Nilai-nilai yang ditinggalkan I Made Sandy di antaranya adalah kesederhanaan, ketegasan, dan kedisiplinan. Beliau memesankan agar sebagai pegawai kita hendaknya tidak sentimentil, lebih mengedepankan rasio dibanding perasaan. Manusia yang sentimentil adalah manusia yang kalah, jangan mau kalah. Beliau adalah sosok pemimpin yang begitu memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Berikut adalah penggalan puisi “Sebuah Kenangan” karangan Kasijono dalam buku Kenang-Kenangan Pelepasan Purna Bhakti Bapak I Made Sandy (1987), staf TGT Jawa Tengah. Penggalan puisi ini menggambarkan bagaimana staf-staf TGT mencintai Pak I Made Sandy.
Setulus, sedalam relung kalbu

Aku terpukau
Aku terkesan atas
Wibawa kepemimpinanmu
Kejujuran lugu
Kesederhanaan berperilaku

Figur pemimpin yang banyak didambakan
Figur pemimpin yang patut diteladani
Kami masih memerlukan itu

Namun apa mau dikata
Mentari tugas sudah diufuk magrib
Sinarnya mulai memerah
Dirembang petang

Jasa jasamu akan s’lalu kukenang
Nasihatmu
Petuahmu
Akan kujadikan pelita


Sumber : https://santosa.wordpress.com

Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto Pakar Ekologi

8:52 PM Add Comment

Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto adalah seorang pakar ekologi Indonesia.lahir di Purwokerto 19 Februari 1926. Guru Besar Emeritus Tataguna Biologi, universitas Padjadjaran ini,  menyelesaikan pendidikan dasar di Temanggung (1941), pendidikan menengah pertama (1944) dan pendidikan menengah atas (1948) di Yogyakarta. Gelar Sarjana Muda (1952) dan Sarjana Pertanian (1954) diperolehnya dengan predikat cum laude dari Universitas Gadjah Mada; dan gelar Ph.D. dalam fisiologi tumbuhan di perolehnya dari universitas of California, Berkeley, Amerika Serikat pada tahun 1960.

Pada tahun 1949-1950 menjadi guru matematika di SLTP di Yogyakarta, kemudian asisten dosen di Fakultas Pertanian UGM sampai tahun 1955. Setelah kembali dari Amerika Serikat, menjadi dosen tetap di fakultas tersebut dan dalam usia 34 tahun dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Agronomi pada tahun 1960.

Pada tahun 1966 memprakarsai pembentukan SEAMEO-BIOTROP dan menjadi direkturnya dari 1968 sampai 1972, disamping menjabat sebagai direktur Lembaga Biologi Nasional (1964-1972). Pada tahun 1972 pindah ke Universitas Padjadjaran dan sebagai Guru Besar Tataguna Biologi di Unpad pada tahun 1991.Kegiatan profesi yang pernah dilakukan baik di tingkat nasional maupun Internasional begitu banyak dan beragam. Menjadi dewan Riset Nasional (1962-1965, 1984-sampai sekarang) dan terdaftar dalam tujuh organisasi profesi di dalam dan di luar negeri.

Pernah menjadi guru besar tamu di University of California, Berkeley, California, USA (1981); di Imperial College, university of london, London, UK (1985/1986); di University of Aberdeen, Aberdeen UK (1986); dan di Massachussetts Institute of Technology (MIT), USA (1991).
Sedangkan Penghargaan yang pernah dianugrahkan kepada Almarhum didalam negeri berupa Bintang Mahaputra Utama, Republik Indonesia (1981); Satyalencana Karya Satya Klas I, Republik Indonesia (1981); Satyalencana Dwidya Sistha, Lemhanas (1981); Satyalencana Dwidya Sistha, Sesko Pimpol (1987); Satyalencana Dwidya Sistha, Sesko ABRI (1992); Anugrah Adam malik (1991); dan Anugerah Hamengku Buwono IV, UGM (1994).

Penghargaan Internasional yang penah almarhum dapatkan adalah Order of the Golden Ark, Prince Bernhard of Nederlands (1982); Golden-500, UNEP (1988); dan Doktor Honoris Causa In Agricultural and Environmental Sciences, Wageningen Agricultural University, Wegeningen, Nederlands. Almarhum duduk sebagai anggota Dewan Editor Journal of Agriculture Ecosystem and Environment, Belanda (1985)Agroforestry Systems, Belanda (1981-1985), beberapa jurnal antara lain Jurnal Agriculture and Environment, Belanda (1974-1982), dan Journal of Environmental Swiss (1974-sekarang). Selain itu Almarhum menerbitkan buku berjudul Ekologi Lingkungan dan Pembangunan (Djembatan) dan Jaring-jaring Kehidupan (Indopress). Dan mendapat penghargaan untuk katogori buku pengetahuan untuk anak-anak masing-masing untuk tahun 1984 dan 1981. telah berpulang  Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto pada hari Selasa, Tanggal 1 April 2008.


Sumber Biografi :
Gajah Mada University Press.

Prof. Dr. F. Sri Hardiyanti Purwadhi Pakar Penginderaan Jauh

8:49 PM Add Comment



Prof. Dr. F. Sri Hardiyanti Purwadhi lahir di Surabaya, Tanggal 28 April 1945, Putri pertama dari pasangan Bapak R.J.Suhardi Brotosardjono dan Ibu RAB. Sukartinah Brotosardjono. Lulus SD (1957) dan SMP (1960) di Boyolali, SMA (1964) di Klaten. Memperoleh gelar Sarjana dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada tahun 1973, kemudian memperoleh pendidikan lanjutan dalam aplikasi teledeteksi di GDTA, Toulouse Perancis tahun 1974. Pendidikan ilmu komputer kerjasama LAPAN-ITB lulus 1979. Pelatihan analisis dijital data penginderaan jauh di Puspics-UGM 1982. Pendidikan Pasca Sarjana non-gelar untuk bidang analisis citra dijital kerjasama ITB-LAPAN lulus 1984.

Training intensive remote sensing application workshop on dijital analysis,CCRS, Ottawa,Canada 1984. Job training Image Interpretationto Forest  Application , NRMC. Question City. Phillipines 1984. Training Geographic Information System di AIT, Bangkok, Thailand tahun 1986. Training Workshop on Radar Mapping, BAKOSURTANAL. Cibinong tahun 1986. Training Tropical Environment Dijital mapping skill Development Program with Micro BRIAN P30 LIPI tahun 1987. Sepadya EPND administrasi dan manajemen LAN tahun 1988, Gelar Doktor dalam Ilmu Geografi diperoleh di Universitas Gadjah Mada tahun 1994 dengan Disertasi ‘Dayaguna SPOT dan Landsat untuk Pemetaan Penggunaan Lahan Pertanian di Bekasi dan Sekitarnya dengan Skala 1: 100.000”. Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) kerjasama LAPAN Lemhanas diikuti 1994.
Mulai bekerja di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tahun 1973 sebagai pegawai honorer hingga tahun 1975, diangkat sebagai Capeg golongan III/a 3 Maret 1975, kenaikan golongan secara reggular dan pilihan hngga sekarang Pembina Utama Muda ( IV/c) tanggal 1 Oktober 1996.

Selain itu beliau sering mengikuti pertemuan ilmiah baik tingkat lokal, nasional maupun internasional di Indonesia dan diluar negeri sejak tahun 1974. Karya Ilmiah yang ditulis sebanyak 88 topik, Tiga diantaranya adalah disertasi, skripsi dan thesis, 63 topik diterbitkan, 14 topik belum/tidak diterbitkan, 8 topik ditulis secara populer untuk siaran TV atau dimuat dalam media masa. Pernah mendapat penghargaan sebagai Karyawan Teladan tahun 1983, Pengalaman lain adalah staf pengajar luar biasa Puspics UGM 1980-1983, dosen luar biasa di Jurusan Geografi FMIPA UI 1976 hingga sekarang dan Tim Pendiri Pusat Penelitian Geografi Terapan FMIPA Universitas Indonesia. Untuk mengetahui beliau lebih lanjut silahkan download biografi  beliau




Prof. DR. H. Haryono Suyono (Bapak KB Nasional)

8:47 PM Add Comment

Nama                           : Prof. DR. H. HARYONO SUYONO
Kelamin                       : Laki-laki
Tempat/Tanggal Lahir   : Pacitan, 6 Mei 1938
Status Perkawinan       : Kawin
Nama Isteri                  : Hj. Astuty Hasinah Haryono
Alamat                         : Rumah Jl. Pengadegan Barat 4 Jakarta 12770
Telpon                         : (021) 799-4943
Fax                              : (021) 797-3516
Alamat                        :  Kantor Gedung Granadi 4 Floor Kuningan Jakarta Selatan

Riwayat Singkat

Haryono Suyono dilahirkan di Pacitan, Jawa Timur pada tanggal 6 Mei 1938. Semasa kecilnya, Haryono diasuh kedua orang tuanya, Bapak Alimoeso dan Ibu Padmirah Alimoeso. Ayahnya adalah seorang guru SD yang kemudian berpindah-pindah dari satu desa pegunungan ke desa pegunungan lainnya di kawasan kabupaten Pacitan. Karena itu, Haryono semasa kecilnya banyak diasuh oleh ibunya yang ulet, Ny. Padmirah, yang mendidik anak-anaknya kerja keras dengan membuka warung kecil keperluan sehari-hari bagi keluarga sekitamya dirumahnya di Pucang sewu, Pacitan.

Selama revolusi 1945, Haryono yang masih kecil sekolah SD di desanya. Haryono kecil ikut mengungsi berpindah dari satu SD di desanya ke SD di desa pengungsian. Namun dia tetap bersekolah dan bergaul dengan anak-anak desa perjuangan tersebut. Selama masa itu Haryono sempat naik kelas duakali dalam satu tahun pelajaran karena dianggap menonjol dikalangan teman- temannya. Haryono menamatkan SD di Pacitan itu pada tahun 1951.

Setelah menyelesaikan pendidikannya pada tingkat SD, Haryono melanjutkan sekolah menengah pertamanya di Yogyakarta, yaitu pada SMP IV Negeri dan SMA IVB Negeri. Selama sekolah SMA Negeri IVB di Yogyakarta Haryono sangat aktip dalam lingkungan penerbitan majalah sekolah dan selama tiga tahun berturut-turut menjadi pimpinan redaksi dari majalah Gelora sekolah tersebut. Pengalaman itulah yang menempatkan Haryono lebih lancar menulis dan membuat laporan.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMP pada tahun 1954, dan SMA IVB Negeri pada tahun 1957, selama dua tahun pertama Haryono meneruskan pendidikannya pada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Diluar kuliah Haryono aktif dalam organisasi non kampus dikampungnya bersama dengan para mahasiswa Universitas Gajah Mada, antara lain mantan Gubernur Kalimantan Selatan Drs. Gusti Hasan Aman, yang waktu itu adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas Gajah Mada.

Namun karena ada sesuatu dan lain hal, maka Haryono tidak sanggup meneruskan pendidikannya di Fakultas Kedokteran UGM dan pindah ke Jakarta mengikuti kakaknya dan meneruskan kuliah sebagai mahasiswa Ikatan Dinas pada Akademi llmu Statistik (AIS) Jakarta, suatu Akademi Kedinasan dibawah naungan Biro Pusat Statistik di Jakarta. Pendidikan kedinasan tersebut diselesaikannya dengan baik dalam waktu tiga tahun.

Segera setelah menyelesaikan pendidikan pada Akademi llmu Statistik Jakarta, maka pada tanggal 30 Agustus 1963 Haryono menikah dengan gadis cantik asli Betawi Astuti Hasinah dan kemudian dikaruniai empat orang anak: Ria Indrastuti (1964), Dewi Pujiastuti(1965), Fajar Wiryono (1967) dan Rina Mardiana (1968). Dengan empat orang anak tersebut kadang-kadang Haryono disangka tidak melaksanakan program KB, padahal anaknya yang terkecil dilahirkan dua tahun sebeIum program KB resmi dimulai pada tahun 1970.

Angkatan Haryono pada AIS termasuk angkatan yang istimewa. Selama tiga tahun dalam AIS tersebut angkatan ini mendapat dosen yang sebagian besar adalah ahli-ahli PBB dari luar negeri yang sedang membangun perstatistikan di Indonesia. Namun beasiswa waktu itu sangat minim, padahal Saudara yang diikuti oleh Haryono adalah seorang pegawai negeri yang gajinya pas-pasan. Bapak Soemargo, kakak Haryono tersebut mempunyai sebuah taksi atau oplet. Pada waktu-waktu tertentu, untuk mengepulkan asap dapur, maka Haryono dan kakaknya Soemargo, yang sudah almarhum sekarang, bergantian menyopir oplet (sejenis mikrolet) itu mondar-mandir antara Jatinegara - Pasar Rebo - Pasar Minggu untuk mencari penumpang yang waktu itu sungguh tidak pernah putus-putusnya, selalu penuh dan memberi cukup rejeki untuk mengepulkan asap dapur.

Karena Haryono beruntung mendapat dosen yang tangguh, maka setelah tamat AIS pada tahun 1963 Haryono sebagai salah seorang mahasiswa yang menonjol, antara lain karena selama mahasiswa dianggap giat sebagai Wakil Ketua kemudian Ketua Senat Mahasiswa AlS, maka Haryono mendapat kesempatan untuk ditunjuk menjadi Asisten dari DirekturAlS. Segera setelah itu maka Haryono mendapat kesempatan yang luas untuk bekerja pada Biro Pusat Statistik (BPS) dan pada tahun 1965 ditempatkan di DKI Jakarta sebagai Wakil Kanwil Kantor Sensus dan Statistik Propinsi DKI Jakarta, suatu jabatan yang sebenarnya masih sangat jauh dari golongan pangkat yang dimilikinya. Pada tahun berikutnya Haryono dipercaya sebagai Pjs. Kanwil Kantor Sensus dan Statistik DKI tersebut. Haryono tidak lama menjabat pada posisi itu karena segera ditarik untuk memimpin suatu bagian baru, Bagian Konsultasi dan Humas Kantor Biro Pusat Statistik di pusat.

Pada jabatan inilah Haryono menyebarluaskan kesadaran statistik di berbagai Departemen dan Instansi pemerintah dan menggerakkan para wartawan untuk mengulas hasil-hasil survey, termasuk Survey Sembilan Bahan Pokok yang dilakukan setiap minggu oleh BPS. Pada saat itu pula Indonesia sedang giat-giatnya berusaha menurunkan angka inflasi yang sangat tinggi, sehingga Haryono setiap minggu mondar-mandir ke Jalan Medan Merdeka Barat no. 15 untuk mengirimkan laporan kepada Bapak Sudharmono, SH (Mensekneg pada waktu itu) untuk keperluan Sidang Kabinet. Pernah terjadi pada suatu ketika, sewaktu Menteri Sekretaris Negara masih dipegang oleh Bapak Alamsyah Ratu Perwiranegara, perubahan inflasi cukup ruwet, sehingga Haryono ditahan untuk duduk di pojok selama beliau menerangkan angka-angka tersebut, jaga-jaga kalau ada kemacetan.

Setelah bekerja pada Biro Pusat Statistik (BPS) dari tahun 1963-1969, mulai bulan Mei 1969 Haryono mendapat kesempatan belajar ke luar negeri yaitu di University of Chicago di Amerika Serikat. Suatu universitas yang terkemuka dan termahal di Amerika Serikat.

Dalam waktu tiga tahun, 1969 - 1972, Haryono menyelesaikan tugas belajar itu dengan cepat, sehingga pendidikan S1, S2 dan S3- atau gelar Master dan Doktor dalam bidang Sosiologi dengan spesialisasi dalam bidang Komunikasi dan Perubahan Sosial serta Kependudukan dan Pembangunan dapat diselesaikannya dengan baik. Dikalangan kampus, terutama bagi orang Amerika yang agak sulit menyebut nama Haryono maka, beliau mendapat sebutan Mr. Hary. Bahkan teman-teman lamanya sampai sekarang masih menyebutnya dengan nama Mr. Hary.

Setelah kembali ke tanah air Haryono bekerja lagi pada Biro Pusat Statistik (BPS) dan merangkap juga pada Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Akhirnya Haryono melekat dengan BKKBN dan menanjak kariernya sebagai Deputi untuk beberapa bidang dan kemudian dipercaya oleh Bapak Presiden Soeharto (waktu itu) untuk menjadi Kepala BKKBN pada tahun 1983. Sepuluh tahun berikutnya pada tahun 1993 Haryono diangkat dalam jabatan rangkap yaitu sebagai Menteri Negara Kependudukan dan Kepala BKKBN pada Kabinet Pembangunan V. Pada kabinet terakhir Presiden Soeharto yaitu Kabinet Pembangunan Vll, beliau masih dipercaya oleh pemerintrah dan diangkat sebagai Menko Kesra dan Taskin selakigus merangkap Kepala BKKBN. Dalam alam reformasi yang mana terjadi pergantian pucuk pimpinan pemerintahan yaitu dari Presiden Soeharto kepada Presiden BJ Habibie, Haryono masih dipercaya oleh pemerintah dan bahkan diberi kepercayaan yang sangat tinggi oleh Presiden BJ Babibie untuk menduduki jabatan strategis yaitu Menko Kesra dan Taskin pada Kabinet Reformasi Pembangunan. Ingin mengenal beliau lebih dekat anda bisa mengunjungi website pribadi beliau di disini.